Tak Sekadar Layanan Posyandu, Puskesmas Cilegon Buka Konsultasi Kesehatan Ibu dan Anak via WhatsApp

Salah satu petugas Puskesmas Cilegon melakukan sosialisasi Program Siaga Sehati di salah satu posyandu di Kecamatan Cilegon. (Istimewa)

CILEGON, BANTENHUB.ID – Orang tua yang memiliki anak susah makan atau kesulitan memberikan ASI, kini bisa mendapatkan akses konsultasi tanpa harus selalu datang ke puskesmas.

Layanan tersebut menjadi salah satu terobosan UPTD Puskesmas Cilegon dalam mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Layanan konsultasi melalui WhatsApp itu merupakan bagian dari inovasi Siaga Sehati (Kolaborasi Layanan Program Kesehatan Ibu dan Anak Terintegrasi) yang dikembangkan UPTD Puskesmas Cilegon, Kecamatan Cilegon.

Program ini menyasar ibu hamil dan balita dengan mengintegrasikan berbagai layanan kesehatan, termasuk melalui kunjungan ke 42 posyandu binaan.

Inovator Program Siaga Sehati UPTD Puskesmas Cilegon, Irfa Rofiatul Millah, mengatakan keunggulan program tersebut terletak pada koordinasi dan keterlibatan berbagai bidang pelayanan kesehatan dalam satu kegiatan.

Sejak 2025, pihaknya melakukan kunjungan ke seluruh 42 posyandu binaan yang melibatkan tenaga promosi kesehatan, petugas gizi, program kesehatan ibu dan anak, dokter umum hingga dokter gigi.

“Mulai tahun 2025, kami roadshow ke 42 posyandu binaan UPTD Puskesmas Cilegon. Kami menjangkau semua posyandu di sana dan memetakan masalah,” kata Irfa saat ditemui di ruang kerjanya pekan lalu.

Para pengurus UPTD Puskesmas Cilegon dan ibu-ibu berfoto bersama. (Istimewa)

Menurutnya, pemetaan dilakukan untuk mengetahui persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat.

Terutama berkaitan dengan stunting, bayi berat lahir rendah (BBLR), kematian bayi, dan gizi buruk pada balita.

“Pemetaan ini kami lakukan lantaran kebutuhan informasi terkait persoalan kesehatan apa saja yang muncul di wilayah Cilegon,” ujarnya.

Berdasarkan data tahun 2025, kata Irfa, terdapat 83 anak stunting di Kecamatan Cilegon atau sekitar 23 persen dari jumlah anak di wilayah tersebut.

Sementara itu, jumlah bayi dengan kondisi BBLR mencapai 28 anak.

“Kalau BBLR target nasional 3 persen, tahun 2025 ada 28 anak di Kecamatan Cilegon. BBLR itu bayi lahir di bawah 2,5 kilogram,” paparnya.

Melalui program Siaga Sehati, lanjut Irfa, Puskesmas Cilegon memanfaatkan data hasil pemetaan untuk menentukan sasaran pembinaan dan intervensi.

Sehingga anak-anak yang teridentifikasi mengalami stunting maupun BBLR, langaung mendapatkan perhatian.

“Mereka bisa secepatnya mendapatkan pelayanan kesehatan, memiliki akses ke posyandu, serta kepesertaan BPJS Kesehatan,” tuturnya.

Selain pelayanan langsung, kata Irfa, masyarakat juga diberikan akses konsultasi melalui WhatsApp.

Nomor layanan tersebut dibagikan kepada warga agar mereka dapat menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai kesehatan anak, gizi ibu hamil, maupun persoalan kesehatan lainnya.

“WhatsApp yang kami bagikan ke warga bisa untuk konsultasi apa pun, terkait kesehatan anak, gizi ibu hamil dan sebagainya. Ternyata efektif,” ujarnya.

Katanya, setiap pertanyaan yang masuk akan ditindaklanjuti sesuai kebutuhan.

Apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut, masyarakat akan diarahkan kepada petugas atau unit pelayanan yang sesuai.

“Kalau ada terkait urgensi, nanti kami arahkan ke UGD. Misalnya ada yang tanya soal KB, kami arahkan ke orang yang menangani masalah KB di Puskesmas Cilegon,” tutupnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *