Rangkasbitung, Dari Pohon Patah Jadi Permata Banten yang Mendunia

Rangkasbitung, Dari Pohon Patah Jadi Permata Banten yang Mendunia

Ilustrasi Rangkasbitung, Ibu Kota Kabupaten Lebak. (Bantenhub.id)

LEBAK, BANTENHUB.ID – Siapa sangka, Rangkasbitung yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Lebak menyimpan kisah panjang penuh makna dan sejarah luar biasa.

Nama Rangkasbitung berasal dari dua kata bahasa Sunda, yakni rangkas yang berarti patah dan bitung yang berarti sejenis pohon khas daerah ini.

Makna pohon bitung yang patah menggambarkan simbol keteguhan masyarakat yang bangkit menghadapi tantangan zaman dengan semangat luar biasa.

Sejak abad ke-16, wilayah Rangkasbitung sudah berperan penting dalam Kesultanan Banten sebagai jalur utama perdagangan hasil bumi.

Letaknya yang strategis menghubungkan pedalaman Priangan dan pesisir utara Pulau Jawa, sehingga menjadikannya pusat pergerakan ekonomi dan budaya.

Pada masa penjajahan Belanda, Rangkasbitung tumbuh pesat menjadi pusat pemerintahan dengan hadirnya sekolah, perkantoran, dan jaringan transportasi modern.

Jalur kereta api Jakarta–Rangkasbitung yang dibangun pada akhir abad ke-19 kini tetap berdenyut sebagai urat nadi mobilitas masyarakat.

Kota ini juga melahirkan kisah monumental lewat Multatuli atau Eduard Douwes Dekker yang menulis karya legendaris Max Havelaar.

Melalui karyanya, Multatuli membuka mata dunia terhadap penderitaan rakyat Lebak dan menyalakan semangat keadilan bagi bangsa-bangsa tertindas.

Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat membangun Museum Multatuli di jantung Rangkasbitung yang kini menjadi kebanggaan Banten dan Indonesia.

Selain sejarahnya yang kuat, Rangkasbitung juga memikat lewat budaya dan kearifan lokal masyarakat Baduy yang hidup damai dengan alam.

Masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar terus menjaga tradisi, adat istiadat, serta cara hidup sederhana yang sarat nilai keselarasan.

Kini, Rangkasbitung berkembang menjadi gerbang wisata Lebak yang ramai dikunjungi wisatawan karena pesona alam dan budayanya yang memikat.

Dari sini, wisatawan bisa menjelajahi Pantai Sawarna yang menawan, Curug Munding yang sejuk, hingga perkampungan adat Baduy yang eksotis.

Dari makna sederhana ‘pohon patah,’ Rangkasbitung menumbuhkan kisah tentang kekuatan, keindahan, dan kebanggaan masyarakat Banten yang luar biasa.

Kini, Rangkasbitung tak hanya hidup dalam peta, tetapi juga berkilau di hati banyak orang sebagai permata Banten yang mendunia. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *