BANTENHUB.ID – Peristiwa kelam ini tak mungkin dilupakan oleh warga Ciputat Timur, Tangerang Selatan.
Dimana malam kelam pada 26 Maret 2009 merubah tawa menjadi tangis dan kepanikan.
Pada dini hari itu, alam murka dan merubah tanggul raksasa yang selama puluhan tahun menjadi sumber kehidupan berbalik menjadi petaka.
Inilah tragedi Situ Gintung, kisah nyata tentang tragedi alam yang menyapu satu kampung dalam sekejap.
Hujan deras yang terjadi di wilayah Ciputat Timur pada 26 Maret 2009 malam, menjadi awal dari bencana besar.
Debit air yang meningkat tajam, membuat tanggul Situ Gintung tak mampu menahan tekanan.
Hanya dalam hitungan detik, tanggul pun jebol dan air bah menerjang perkampungan sekitar.
Aparat kelurahan sebelumnya telah memperingatkan warga agar bersiaga karena hujan tak kunjung berhenti.
Namun warga tak mengindahkannya, mereka memilih beristirahat tanpa menyadari maut akan menghampiri.
Namun ada seorang warga, Aji Bongas, ia berbeda dengan warga lain, Aji merasa sangat sangst gelisah.
Pada akhirnya, di tengah derasnya hujan, ia mendatangi tanggul untuk memastikan keadaan.
Setibanya di lokasi, ia sangat kaget setelah melihat dinding tanggul retak dan terdengar suara gemuruh mengerikan.
Melihat hal itu, Aji segera berlari ke kampung sambil berteriak memperingatkan warga.
“Tanggul Retaaaak….! Tanggul Retaaaak!!” Teriaknya.
Namun sayangnya, upaya Aji meneriakan tanda bahaya hanyalah upaya sia-sia.
Hanya sesaat kemudian, gelombang air setinggi rumah datang menghantam perkampungan.
Air bah dari arah tanggul menggulung permukiman, tepat ketika azan subuh berkumandang.
Warga yang sedang tidur tak menyadari datangnya bencana itu, sementara mereka yang terbangun panik.
Air dimana-mana, listrik padam, kampung gelap gulita, teriakan dan tangisan memenuhi udara.
Warga berusaha berpegangan pada apa pun yang bisa dijangkau, sambil berteriak minta tolong.
Saat matahari terbit, pemandangan memilukan tersingkap.
Rumah-rumah hancur, puing-puing berserakan, dan ratusan tubuh tergeletak tak bernyawa.
Kawasan Perumahan Cirendeu Permai, Tangerang Selatan, Banten, menjadi titik paling parah.
Lebih dari 100 orang meninggal dunia, sementara ratusan lainnya hilang.
Fakta Mencengangkan
Belakangan terungkap fakta mencengangkan.
Warga sebenarnya sudah melaporkan retakan di dinding tanggul jauh sebelum peristiwa itu.
Namun pemeriksaan dari pihak berwenang menyatakan bahwa tanggul masih aman.
Padahal, tanggul Situ Gintung dibangun sejak zaman Belanda dan awalnya hanya dirancang untuk penggunaan jangka pendek.
Ironisnya, pada awal tahun 2000-an, kawasan itu malah dijadikan objek wisata, lengkap dengan bangunan yang berdiri terlalu dekat dengan area tanggul.
Setelah tragedi mengerikan itu, pemerintah akhirnya melakukan renovasi besar-besaran terhadap bendungan Situ Gintung.
Meski fisiknya kini kokoh, luka dan trauma warga sekitar masih membekas dalam ingatan. (red)












